Menanggapi Opini tentang “City Branding Kota Kretek “ saya setuju dengan opini ini, bukankah sebuah kota harus memiliki sebuah jati diri kota tersebut. Dengan adanya city branding dapat membentuk identitas kota yang berguna untuk memasarkan segala aktivitas kegiatan, saran serta budaya yang ada di kota tersebut sehingga kota tersebut dapat dikenal secara luas baik di dalam kota maupun di luar kota. Membentuk identitas Kota dengan City Branding bukanlah hal yang mudah karena semua kota tidak dapat melakukan dengan cara yang sama untuk membentuk identitas kota harus ada keunikan yang ditonjolkan dari sebuah kota. Sebuah kota seharunya mempunyai identitas sendiri, sehingga dapat membedakan dengan kota/kabupaten lain. Begitu juga dengan Kota Kudus banyak orang mengenal Kota Kudus dengan sebutan “Kudus Kota Kretek” karena di Kota Kudus banyak terdapat pabrik-pabrik besar yang memproduksi rokok. Memang Kudus cukup beruntung untuk menyandang slogan tersebut, tanpa harus mempublikasikan dan tanpa biaya publikasi mahal, semua orang sudah tahu bahwa Kudus adalah daerah yang kondang dengan produksi Kretek. Meskipun belum ada pengukuhan secara formal, sebutan tersebut tidak bisa dipungkiri telah melekat di kalangan masyarakat Kudus bahkan Indonesia. Karena sudah terbentuknya identitas melaui julukan dan slogan tersebut, hendaknya keaslian Kota Kuuds dapat terus dipertahankan, bahkan dikuatkan agar tidak tergerus oleh arus modernisasi yang semakin cepat dan tetap punya ciri khas yang membedakan Kota Kudus dengan kota/kabupaten lainnya..
Selasa, 20 Desember 2016
UPGRIS BERSASTRA
Universitas
PGRI Semarang tidak ada habisnya membuat inovasi dan kreasi di setiap perayaan
Bulan Bahasa yang setiap tahunnya diselenggarakan pada bulan Oktober. Rabu 19
Oktober semua perkuliahan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni dialihkan ke
Balairung. Dengan memakai baju batik kebanggaan Indonesia para mahasiswa
berbodong-bondong masuk ke Gedung yang megah itu. Pukul 08.30 WIB acara UPGRIS BERSASTRA dengan
judul “3 Buku 3 Pembaca 3 Kritikus Satu Penulis” pun dimulai. Acara dibuka
dengan pembukaan musikalisasi puisi dari grup band Bisquittime yang menyanyikan
sekitar empat buah lagu. Acara pun beralih dan dipandu dengan pembawa acara.
Seperti acara-acara perayaan biasanya pembawa acara membuka acara tersebut.
Tiba-tiba
setelah pembawa acara turun dari panggung lampu tiba-tiba dipadamkan. Entah apa
yang terjadi dipanggung sana. Ternyata ketika lampu dihidupkan kembali sudah
ada lima gadis memakai baju hitam putih berdiri di depan cermin sambil
membacakan sebuah puisi. Disini mulai ada kebingungan dan kejenuhan dengan
pertunjukan yang ditunjukkan oleh kelima gadis cantik tersebut. Tidak paham,
tidak mengerti dan maksudnya apa? Kata-kata tersebut mungkin yang ada di dalam
benak para penonton. Untungnya setelah pertunjukkan kelima gadis itu, perasaan
bingung serta jenuh hilang sudah. Seketika kami tercengang mendengar Pak Seno
membacakan puisi dengan begitu indah dan
enak untuk didengar oleh gendang telinga. Dibantu dengan alunan musik karawitan
serta para penari yang pandai melekak-lekukan tubuh mereka membuat suasana
semakin hidup dan membuat semua mata terpana. Seperti melihat konser besar yang
sudah diancang jauh-jauh hari. Oh My God bagus sekali, seakan mata ini tidak
ingin berkedip satu detikpun. Para Penonton mengeluarkan HP mereka untuk
mengabadikan moment yang sesuatu banget ini. Sekitar tujuh samapi sepuluh menit
pertunjukan ini pun selesai. Setelah para penonton dimanjakan dengan
pertunjukkan nan elok acara inti pun dimulai.
Bapak
Harjito yang sudah ditunjuk untuk menjadi Pemandu Acara atau MC dalam bedah
buku ini. Tiga buku yang akan dibedah tersebut
antara lain Bersepeda Ke Neraka, Selir Musim Panas, dan Sesat Pikir Para
Binatang. Tiga Pembaca tersebut antara lain Pak Seno, Rektor UPGRIS dan Wakil Rektor kita Bu Suci. Tiga Kritius
tersebut antara lain Bapak Nur Hidayat, Bapak Prasetyo Utomo dan Widyanuri Eka
Putra. Penulis buku tersebut adalah Triyanto Triwikromo. Siapa yang tidak kenal dengannya? Penulis
hebat asal Semarang. Karya-karyanya yang enak dinikmati para pembaca dengan
berjubel ide dan gagasan. Sebelum para kritikus mengkkritik atau mengomentari
buku-buku Triyanto Triwikromo, para penonton dihidangkan lagi dengan sebuah
kejutan, ya Bapak Muhdi. Meskipun bukan orang sastra tapi kepiawaian Bapak
Muhdi sudah tidak diragukan lagi. Sebelum Beliau membacakan puisi karangan
Triyanto Triwikromo Beliau mengalunkan sebuah lagu ciptaanya ketika jaman SMA
dulu. WOW ternyata Beliau menyanyi dengan menggunakan sebuah gitar, itu yang
menjadi para penonton kagum akan keahlian Beliau. Petikan gitar yang keras tapi
enak didengar karena memang genre lagu yag dinyanyikan adalah rock. Tepuk
tangan yang meriah setelah Pak Muhdi membacakan puisi Triyanto Triwikromo. Pak
Muhdi berkata “kenapa saya memilih puisi yang berjudul Takziah? Karena kematian
tidak ditentukan bedasarkan umur, kematiian seseorang bisadatang kapan saja,
diaman saja”.
Setelah
Pak Muhdi menunjukkan kepiawaian Beliau dalam menyanyi dan membaca puisi,
sekarang giliran Bu Suci adu kepiawaiannya. Dengan dibantu mahasiswa jurusan
Bahasa Inggris bernama Erdha. Erdha ialah mahasiswa yang pawai menyanyikan lagu
jawa. Badannya yang kecil tapi suaranya enak untuk didengar dan membuat para
penonton terbungkam dengan suaranya. Dengan diiringi alunan lagu jawa yang
dilantunkan Erdha, Bu Suci membacakan puisi dengan judul lagu Selir Musim
Panas. Ternyata keistimewaan Bu Suci bukan hanya karena beliau pandai membaca
puisi tapi beliau juga pandai nembang jawa.
Pak
Muhdi dan Bu Suci sudah menunjukkan kepiawaian mereka. Sekarang kembali lagi
keinti acara ini. Kembali kita akan membedah buku-buku karangan Triyanto
Triwikromo. Dimulai dari Pak Nur, beliau berkata bahwa “Triyanto Triwikromo
adalah pelintas batas, apa yang Triyanto Triwikromo tulis melampaui batasan-batasan seperti mendialogkan dialog
satu dengan dialog lain”. Belum usai sampai segitu saja sekarang bisquitime
yang akan mengapresiasikan karya Triyanto Triwikromo dalam bentuk musikalisasi
puisi.
Menurut
Pak Pras Triyanto Triwikromo merupakan adek tingkat Pak Pras. Jika Triyanto
Triwikromo sedang kesulitan menulis teks, Triyanto Triwikromo sering pergi ke
rumah Pak Pras untuk meminta bantuan. Tapi begitu Triyanto Triwikromo menulis di KOMPAS tulisan tersebut langsung
diterima. Sudah 12 buku yang Triyanto
Triwikromo ciptakan, berkali-kali
mendapatkan penghargaan sastra, novel Triyanto Triwikromo juga diterbitkan oleh
Gramedia. Untuk memahami cerpen Triyanto Triwikromo yang sulit dipahami atau
ruwet dapat dipahami dengan teori struktrualisme genetic. Memahami satu teks
dengan teks yang lain. Menurut Pak Pras ada judul buku yang cukup aneh karangan
Triyanto Triwikromo yaitu Bersepeda Ke Neraka sebenarnya jika buku ini
konvensional harusnya berjudul Kejebur Neraka atau Bersepeda Ke Taman. Bahwa
cerpen ini serupa dengan apa yang dikatakan oleh Ismail Marzuki ada tiga unsur
sastra yaitu ada tokoh ada latar dan ada alur . Cerpen yang bagus itu harus
memuat ketiga unsur tersebut. Cerpen Bersepeda Ke Neraka merupakan cerpen yang
tidak berkelamin . Perlu diingat bahwa suatu hari pidato politik itu bisa
mendapatkan anugerah sastra, yang kedua bahwa seorang yang menciptakan lagu itu
juga dapat mendapatkan penghargaan sastra , itu artinya apabila kita bias memahami ragam sastra tiak berjenis kelamin.
Sekarang
giliran kritikus Widyanuri Eka Putra mengkritik atau mengomnetari tentang hasil
karya tulis dari Triyanto , tapi sebelumnya Widyanuri Eka Putra membagi-bagikan
buku yang ia miliki dengan cara jika ada yang benar menjawab pertanyaan
Widyanuri Eka Putra mak buku itu dapat dimiliki penonton yang bisa menjawab. Widyanuri
Eka Putra membicarakan tentang buku karangan Triyanto yang berjudul Selir Musim
Panas. Widyanuri Eka Putra mengenal teks Triyanto sejak tahun 2009. Widyanuri
Eka Putra teringat dengan novel
pembukaan Eka Kurniawan yang berjudul O. Ternyata menjadi manusia itu
sangat berat dan tugas yang terberat adalah menjadi manusia. Jadi pembukaan itu
menurut Widyanuri Eka Putra salah yang sulit itu adalah menjadi penyair.
Terbukti dari nama-nama yang dulu terkenal banyak yang pesiun menjadi penyair.
Tapi Triyanto tidak pensiun menjadi penyair itu hal yang hebat. Widyanuri Eka Putra mengupas buku Selir Musim
Panas ini, untuk memahami semua kumpulan puisi Triyanto harus membaca empat
buku tebal. Puisi Triyanto disusun dari empat buku yaitu buku Ancemin novelis
China, Gelas Impress dan dua lainnya.
Akhirnya
orang yang dibicarakan pun menaiki panggung. Disana terjadilah Tanya jawab
antara Pak Harjito dan Pak Triyanto. Pak Harjito bertanya apa sih kerennya
menjadi penulis? Menurut Pak Triyanto penulis itu tidak beda dengan orang yang
memanjat kelapa jadi tidak ada kerennya. Itu bukan kata-kata saya itu adalah
kata-kata penulis hebat dari Brazil jawab Pak Triyanto. Kenapa kebanyakan hasil
karya Pak Triyanto banyak menceritakan tentang kematian, apa menariknya ?, sudah banyak yang menulis saya
hanya akan mengutip dari kata-kata orang bahwa kehidupan itu bermula dari
kematian, dari kematian itulah bermula kehidupan.
Puncak
Bedah buku para ktirikus memberikan sebuah statement untuk Triyanto .Statement dari pak Nur
yaitu “pada saat ini kita berada dalam situasi dan kondisi yang menuntut
serba instan, serba cepat dan untuk membaca karya-karya Triyanto Triwikromo
jika kita menggunakan metode-metode membaca yang instan itu tidak cukup. Kita
harus jadi seorang pembaca yang tekun dan tabah, dan melengkapi diri kita
ketika membaca dengan seperangkat metode-metodeyang cukup memadai sehingga
membaca kita menjadi sebuah bacaan yang lebih berkualitas, walaupun dalam
praktiknya sebuah teks itu ketika sudah dilepas oleh pengarangnya itu menjadi
sebuah milik public atau pembacanya tetapi
pembaca yang baik menurut saya adalah pembaca yang selalu mencoba
melengkapi dirinya dengan file-file dari metode-metode yang memadai dan sangat membantu sehingga para
pembaca menjadi pembaca yang bagus.
Bagi
Pak Pras “ Ini adalah potret seorang sastrawan yang sesungguhnya. Ayu Utami
butuh sexs untuk melejitkan namanya. Faizal Odang butuh sejarah untuk
melejitkan namanya dengan cepat. Terre Liye butuh style yang berkomunikasi
dengan massa agar melejit namanya. Triyanto Triwikromo butuh tiga puluh tahun
tanpa henti.
“Saya
kira pernyataan terakhir diakui atau tidak Triyanto Triwikromo adalah
salah satu penganut Umbrto Tejo, karena sebuah buku selalu terbentuk dari
buku-buku lainnya. Jadi buku-buku yang dihasilkan Triyanto Triwikromo adalah
perasan-perasan dari karya-karya besar
dunia. Kalau ingin menjadi seorang sastrawan seperti Triyanto Triwikromo
tirulah lakunya.” Kata Widyanuri Eka Putra.
Mengomentari Esai Eki Endang Setiani
Mengomentari esai yang berjudul “Jaka Tarub” yang ditulis oleh Eki
Endang Setiani, menurut saya penulisan esai yang sudah di buat oleh Eki masih
perlu banyak pengoreksian. Jika dilihat dari ceritanya penulis menceritakan
bagaimana alur cerita teater itu dimulai, tetapi keanehan esai ini tidak
diakhiri dengan bagaimana sebuah pertunjukan teater tersebut berakhir. Penulis
hanya bercerita tentang bagaimana teater itu berjalan. Adanya kesalahan tentang
penyebutan nama tokoh seperti nama tokoh “Nawang Wulan” tetapi disini malah
ditulis “Damar Wulan”. Ini adalah sebuah kesalahan fatal dimana seorang penulis
bisa membuat sebuah kesalahan yang sangat cacat. Apalagi ini adalah sebuah nama
tokoh utama perempuan yang sangat disorot dalam cerita ini. Kesalahan penulisan
nama tokoh utama perempuan akan mempengaruhi pembaca. Pembaca mungkin akan
enggan memabaca karena sejak awal saja penulis sudah salah menuliskan nama
tokoh utama perempuan, lantas pembaca akan berfikir tentang kebenaran esai
ini.Sungguh amat disayangkan bukan? Apalagi kisah Jaka Tarub sudah tidak asing
lagi bagi masyarakat Indonesia bahkan masyarakat Indonesia sudah paham bahwa
Jaka Tarub menikah dengan seorang bidadari yang bernama Nawang Wulan bukan
Damar Wulan. Penulis juga ternayata salah menuliskan nama anak Jaka Tarub dan
Nawang Wulan. Disini penulis menuliskan bahwa anak Jaka Tarub adalah “Wulan”
bukan “Nawangsih”. Serta ketidak konsistenan penulis menceritakan di awal
cerita penulis menuliskan bahwa anak Jaka Tarub bernama Wulan (Teater
Jaka Tarub dimulai sejak jaka tarub sudah mempunyai istri dan anak perempuan
yang bernama wulan) tetapi di akhir cerita penulis menyebut bahwa anak Jaka
Tarub bernama Nawangsih (jaka tarub yang mengambil selndang miliknya dan
akhirnya damar wulan meninggalkan jaka tarub dan Nawangsih). Dari sini
saja bisa kita lihat bahwa penulisan esai ini banyak sekali kekeliruan. Ada
lagi kekeliruan yang harus dibenahi oleh penulis tentang kutipan ini
“Pertunjukan tearer Jaka Tarub ini dibuat oleh karya mahasiswa teater gema
karya mahasiswa PBSI Universitas PGRI Semarang” sebenarnya pertunjukan Jaka
Tarub ini bukanlah karya dari mahasiswa teater gema cerita Jaka Tarub sudah ada
sejak dulu sebelum pentas teater ini dilaksanakan. Teater ini diperankan
oleh mahasiswa Unit Kemahasiswaan Teater Gemma UPGRIS. Bukankah itu
sebuah kesalahkaprahan? Memang tidak seratus persen seorang penulis
menulis esai itu harus benar dan tepat, setidaknya seorang penulis yang baik
adalah penulis yang memahami bahan tulisan yang akan ia jadikan sebuah tulisan
sehingga minilam tidak akan terjadi kekacauan atau kesalahkaprahan dalam
sebuah penulisan. Jika dilihat dari sisi lain dan melupakan sejenak
kesalahan-kesalahan diatas. Bisa dilihat bahwa penulis juga menuliskan
sebuah pesan moral yang baik untuk para pembaca. Jika
kita bisa memahami kisah ini ada nilai-nilai kearifan lokal dan pesan moral
dari sebuah cerita rakyat yang bermanfaat.
Surat Untuk Dosen Kece
Assalammualaikum
Wr.Wb.
Selamat malam
juga Pak Naka yang paling ganteng di kelas 3E. Kabar saya alhamdulilah
baik-baik saja. Semoga Pak Naka di Jakarta juga baik-baik saja, Amin. Mengenai
rencana saya untuk hari-hari berikutnya semoga di setiap berganti harinya saya
bisa menjadi pribadi yang lebih baik, lebih berguna bagi sesama serta yang
lebih penting semoga saya bisa membahagiakan keluarga saya, Amin ya Rob.
Langsung ke inti
pembicaraan ya pak. Sesungguhnya saya itu bukan malas membaca pak, tetapi
sedikit sungkan untuk membaca sesuatu yang bukan tipe bacaan saya, karena saya
lebih suka membaca sesuatu yang bacaannya mengandung unsur komedi serta
mengandung unsur yang anti mainstream. Terkadang memang suka jenuh jika di
suruh membaca buku yang berlapis-lapis dan berlembar-lembar. Karena tipekal
saya adalah tipekal yang lebih bisa memahami perkataan orang lain ketimbang
harus membaca lembaran-lembaran kertas yang entah saya sendiri bingung kenapa
jika saya membaca kurang bisa memahami. Jika saya ingin memahami dari suatu
teks pun saya harus mengulang-ulang bahan bacaan tersebut hingga saya memahami
isi dari teks.
Mengenai
berterus-terang untuk berbicara? Sebenarnya saya adalah tipekal orang yang
banyak bicara atau sering dibilang cerewet tetapi ketika saya berada di dalam
suatu forum entah itu kelas ataupun organisasi saya juga tidak paham kenapa
saya kurang percaya diri dengan apa yang ada dalam pikiran saya untuk
diutarakan, mungkin saya takut jika perkataan saya tidak diterima atau jawaban
saya salah. Tetapi keanehan saya jika
saya belum mengenal seseorang disekeliling saya, saya akan lebih percaya diri
untuk sekadar mengangkat tangan dan membicarakan gagasan atau ide yang ada
dalam benak serta pikiran saya.Mungkin karena jika perkataan saya tidak
diterima atau jawaban saya salah saya
tidak akan malu, sebab mereka tidak
mengenali saya heheheh.
Memahami tentang
diri saya kenapa penting? Yang tahu tentang diri saya ya saya sendiri, orang
lain hanya bisa memahami tapi mungkin mereka tidak mengerti tentang diri saya.
Jika saya bisa mengerti serta memahami diri saya maka saya akan dengan enak
menjalani hidup dan saya akan kebih bisa mengikuti alur hidup seperti yang saya
inginkan.
Niatan saya
bertahan hidup? So pasti karena saya belum bisa jadi apa-apa, masih jadi
anak-anak yang menginjak dewasa tapi masih sering ngrepoti keluaraga. Saya
belum bisa membalas jerih payah kedua orang tua saya karena sampai sekarang
masih saja nyadong uang saku ke orang tua. Belum bisa menggapai cita-cita saya untuk menaikan haji orang tua, membuatkan
rumah yang megah untuk nenek saya dan belum bisa menjadi manusia yang bisa
bertanggung jawab menjadi khalifah di bumi tercinta ini.
Motivasi saya
harus kuliah? Saya sadar saya terlahir bukan dari keluarga yang terpandang dan
bukan dari keluarga yang kekayaannya tidak akan habis tujuh turunan. Saya sadar
karena saya anak pertama yang harus menjadi panutan bagi adik saya, jika
pendidikan saya rendah ataupun gagal bagaimana dengan nasib adek saya kelak?
Kata Bapak saya kesuksesan adek saya berada ditangan saya, karena seorang kakak
yang baik harus jadi tuntunan serta tontonan bagi adiknya. Terakhir yang paling
penting saya ingin merubah dunia meskipun yang saya ubah itu dunia keluarga
saya.
Masih ada yang
bicara dalam kelas? Heheh saya juga sering begitu pak jika lagi tidak mood
dengan mata kuliah yang sedang saya pelajari. Sudah jadi kebiasaan mahasiswa
berbicara dalam kelas tapi jika ditanya dosen pada bungkam semua(manusiawi katanya
pak). Tapi ya memang mengganggu jalannya pelajaran jika ada yang berbicara
dalam kelas, semisal ada teman yang
serius belajar dan mendengarkan dosen jadi terganggu dengan bunyi-bunyiaan
tidak penting. Hahahah Basmi aja Pak musnahkan heheh.
Berapa buku yang
sudah dibaca? Lumayan banyak pak jika di hitung sejak saya duduk di bangku
sekolah dasar(buku pelajaran, komik, cerpen, buku keagaamaan dan masih banyak
lagi). Berapa Koran yang disimak? Saya
tidak terlalu suka dengan Koran pak, saya membaca Koran jika ada judul yang
menarik dan membuat rasa pengen tahu saya bertambah besar serta yang terpenting
jika saya membaca Koran itu pasti ketika saya sedang mendapatkan tugas karena
saya dan keluarga saya tidak pernah berlangganan Koran serta majalah dari dulu.
Apa sih yang
menarik dari dirimu? Eeemmmmmzd yang menarik dari diri saya, apa ya Pak heheh
kadang bingung juga apa yang menarik. Karena yang bisa menilai seberapa
menariknya saya ya orang lain bukan diri saya. Tapi menurut saya, yang bisa
saya jual dari diri saya yaitu suara ocehan saya hehehe (kecrewetan saya
Pak).
Begitulah Pak
surat balasan yang bisa saya balas. Sedikit tidak formal tapi itu tulus dari
lubuk hati saya yang terdalam loo Pak jawabannya hehehhe. Tetap semangat ya Pak
mengajar Kami, Kami masih kurang bimbingan dan haus akan ilmu mengenai
Penulisan Media Massa. Sekian dan Terima Kasih Pak.
Wassalammualaikum
Wr.Wb.
Jaka Tarub
Unit Kemahasiswaan GEMMA Universitas PGRI Semarang mengadakan sebuah pagelaran teater cerita rakyat yang berjudul “Jaka Tarub”. Jaka Tarub merupakan cerita rakyat dari Jawa Tengah yang sudah mansyur ditelinga masyarakat Indonesia. Teater ini diselenggarkan pada hari Selasa pukul 19.00 di Gedung Pusat Lantai 7. Banyak mahasiswa yang antusias menonton pertunjukan ini, karena tiket masuk menonton ini cukup murah hanya sebesar sepuluh ribu rupiah saja.
Pertunjukan teater ini tidak terlalu banyak memakan poperti karena hanya poperti sederhana saja yang mereka gunakan. Teater ini diperankan oleh 15 orang pemain. Dimana setiap pemain sangat menghayati setiap naskah yang mereka perankan. Alur yang digunakan adalah alur maju mundur. Sehingga membuat penontonya seperti masuk kedalam dunia yang mereka perankan.
Cerita teater ini berawal pada suatu malam, ditengah tidurnya yang lelap, Jaka Tarub bermimpi mendapat istri seorang bidadari nan cantik jelita dari kayangan. Begitu terbangun dan menyadari bahwa itu semua hanya mimpi, Jaka Tarub tersenyum sendiri. Walaupun demikian, mimpi indah barusan masih terbayang dalam ingatannya.
Suatu hari, Jaka hendak pergi berburu. Lalu pergilah dia menuju hutan yang lebat. Sesampainya di tengah – tengah hutan yang lebat, Jaka Tarub pun tetap tidak menemukan hewan yang dicarinya. Akhirnya dia pun lelah dan memutuskan untuk beristirahat sejenak di dekat batu besar. Ketika dia tengah menyadarkan tubuhnya, dia mendengar suara - suara wanita yang tengah asyik bercengkerama di balik batu itu..
Karena merasa penasaran, Jaka Tarub lalu mengintip dari balik batu besar itu, dan alangkah terkejutnya Jaka Tarub, karena yang dia lihat adalah wanita – wanita cantik yang tengah bermain air di telaga itu. Alangkah terkejutnya Jaka Tarub menyaksikan tujuh orang gadis cantik sedang mandi di Telaga. “Apakah ini arti mimpiku waktu itu ?”, pikirnya senang.
Mata Jaka Tarub melihat tumpukan pakaian bidadari di atas sebuah batu besar di pinggir Telaga.. Dengan hati hati Jaka Tarub berjalan menghampiri tumpukan baju itu. Ia berjalan sangat perlahan. Jaka Tarub memilih baju berwarna merah. Setelah berhasil, Jaka Tarub buru buru menyelinap ke balik semak semak.
Tiba tiba seorang dari bidadari itu berkata “, Ayo kita pulang sekarang. Hari sudah sore”. “Ya benar. Sebaiknya kita pulang sekarang sebelum matahari terbenam”, tambah yang lain. Para bidadari itu keluar dari danau dan mengenakan pakaian mereka masing masing.
“Dimana bajuku ?”, teriak salah seorang bidadari. “Siapa yang mengambil bajuku ?”, tanyanya dengan suara bergetar menahan tangis. “Dimana kau taruh bajumu Nawangwulan ?”, tanya seorang bidadari kepadanya. “Disini. Sama dengan baju kalian..”, Nawangwulan menjawab sambil menangis. Ia terlihat sangat panik. Tanpa bajunya, mana mungkin ia bisa pulang ke Kayangan. Apalagi selendang yang dipakainya untuk terbang ikut raib juga.
Akhirnya seorang bidadari berkata “Nawangwulan, maafkan kami. Kami harus segera pulang ke kayangan dan meninggalkanmu disini. Hari sudah menjelang sore”. Nawangwulan tidak dapat berbuat apa apa. Ia hanya bisa mengangguk dan melambaikan tangan kepada keenam temannya yang terbang perlahan meninggalkan Danau.
Nawangwulan kelihatan putus asa. Tiba tiba tanpa sadar ia berucap “Barangsiapa yang bisa memberiku pakaian akan kujadikan saudara bila ia perempuan, tapi bila ia laki laki akan kujadikan suamiku”. Jaka Tarub yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Nawangwulan dari balik pohon tersenyum senang. “Akhirnya mimpiku menjadi kenyataan”, pikirnya.
Jaka Tarub keluar dari persembunyiannya dan berjalan kearah danau. Ia membawa baju mendiang ibunya yang diambilnya ketika pulang tadi. Jaka Tarub segera meletakkan baju yang dibawanya diatas sebuah batu besar seraya berkata “Aku Jaka Tarub. Aku membawakan pakaian yang kau butuhkan. Ambillah dan pakailah segera. Hari sudah hampir malam”.
Jaka Tarub meninggalkan Nawangwulan dan menunggu di balik pohon besar tempatnya bersembunyi. Tak lama kemudian Nawangwulan datang menemuinya. “Aku Nawangwulan. Aku bidadari dari kayangan yang tidak bisa kembali kesana karena bajuku hilang”, kata Nawangwulan memperkenalkan diri. Ia memenuhi kata kata yang diucapkannya tadi. Tanpa ragu Nawangwulan bersedia menerima Jaka Tarub sebagai suaminya.
Mereka berdua telah menjadi suami istri yang sangat bahagia. Mereka telah dikaruniai oleh seorang putri yang sangat cantik yang diberi nama Nawangsih. Tak seorangpun penduduk desa yang mencurigai siapa sebenarnya Nawangwulan. Jaka Tarub mengakui istrinya itu sebagai gadis yang berasal dari sebuah desa yang jauh dari kampungnya.
Ada satu hal yang mengganggu pikirannya selama ini. Jaka Tarub merasa heran mengapa padi di lumbung mereka kelihatannya tidak berkurang walau dimasak setiap hari. Lama lama tumpukan padi itu semakin meninggi.
Pada suatu pagi, Nawangwulan hendak mencuci ke sungai. Ia menitipkan Nawangsih pada Jaka Tarub. Nawangwulan juga mengingatkan suaminya itu untuk tidak membuka tutup kukusan nasi yangsedangdimasaknya. Ketika sedang asyik bermain dengan Nawangsih, Jaka Tarub teringat akan nasi yang sedang dimasak istrinya. Karena terasa sudah lama, Jaka Tarub hendak melihat apakah nasi itu sudah matang. Tanpa sadar Jaka Tarub membuka kukusan nasi itu. Ia lupa akan pesan Nawangwulan.
Betapa terkejutnya Jaka Tarub demi melihat isi kukusan itu. Nawangwulan hanya memasak setangkai padi. Ia langsung teringat akan persediaan padi mereka yang semakin lama semakin banyak. Terjawab sudah pertanyaannya selama ini.
Nawangwulan yang rupanya telah sampai di rumah menatap marah kepada suaminya di pintu dapur. “Kenapa kau melanggar pesanku Mas ?”, tanyanya berang. Jaka Tarub tidak bisa menjawab. Ia hanya terdiam. “Hilanglah sudah kesaktianku untuk merubah setangkai padi menjadi sebakul nasi”, lanjut Nawangwulan. Jaka Tarub menyesali perbuatannya. Tapi apa mau dikata, semua sudah terlambat. Nawangwulan langsung masuk ke rumah dia menemukan selendang yang selama ini ia cari.
Bermacam perasaan berkecamuk di hatinya. Nawangwulan merasa dirinya ditipu oleh Jaka Tarub yang sekarang telah menjadi suaminya. Ia sama sekali tidak menyangka ternyata orang yang tega mencuri bajunya adalah Jaka Tarub.
“Kenapa kau tega melakukan ini padaku Jaka Tarub ?”, tanya Nawangwulan dengan nada sedih. “Maafkan aku Nawangwulan”, hanya itu kata kata yang sanggup diucapkan Jaka Tarub. Ia terlihat sangat menyesal. Nawangwulan dapat merasakan betapa Jaka Tarub tidak berdaya di hadapannya.
“Sekarang kau harus menanggung akibat perbuatanmu Jaka Tarub”, kata Nawangwulan. “Aku akan kembali ke kayangan karena sesungguhnya aku ini seorang bidadari. Tempatku bukan disini”, lanjutnya. Jaka Tarub tidak menjawab. Ia pasrah akan keputusan Nawangwulan.
Jaka Tarub menahan kesedihannya dengan sangat. Ia ingin terlihat tegar. Setelah Jaka Tarub menyatakan kesanggupannya untuk tidak bertemu lagi dengan Nawangwulan, sang bidadaripun terbang meninggalkan dirinya dan Nawangsih. Jaka Tarub hanya sanggup menatap kepergian Nawangwulan sambil mendekap Nawangsih. Sungguh kesalahannya tidak termaafkan. Tiada hal lain yang dapat dilakukannya saat ini selain merawat Nawangsih dengan baik seperti pesan Nawangwulan.
Jika kita bisa memahami kisah ini ada nilai-nilai kearifan lokal dan pesan moral dari sebuah cerita rakyat yang bermanfaat. kisah Jaka Tarub mengisyaratkan nasihat bahwa manusia tidak boleh melanggar janji. Artinya, kalau berjanji mesti diupayakan untuk ditepati. Jangan seperti juru kampanye yang mengobral janji hanya saat pilkada atau pilpres, namun ketika menjabat lupa akan janji-janji yang pernah dilontarkan.
Pertunjukan teater ini tidak terlalu banyak memakan poperti karena hanya poperti sederhana saja yang mereka gunakan. Teater ini diperankan oleh 15 orang pemain. Dimana setiap pemain sangat menghayati setiap naskah yang mereka perankan. Alur yang digunakan adalah alur maju mundur. Sehingga membuat penontonya seperti masuk kedalam dunia yang mereka perankan.
Cerita teater ini berawal pada suatu malam, ditengah tidurnya yang lelap, Jaka Tarub bermimpi mendapat istri seorang bidadari nan cantik jelita dari kayangan. Begitu terbangun dan menyadari bahwa itu semua hanya mimpi, Jaka Tarub tersenyum sendiri. Walaupun demikian, mimpi indah barusan masih terbayang dalam ingatannya.
Suatu hari, Jaka hendak pergi berburu. Lalu pergilah dia menuju hutan yang lebat. Sesampainya di tengah – tengah hutan yang lebat, Jaka Tarub pun tetap tidak menemukan hewan yang dicarinya. Akhirnya dia pun lelah dan memutuskan untuk beristirahat sejenak di dekat batu besar. Ketika dia tengah menyadarkan tubuhnya, dia mendengar suara - suara wanita yang tengah asyik bercengkerama di balik batu itu..
Karena merasa penasaran, Jaka Tarub lalu mengintip dari balik batu besar itu, dan alangkah terkejutnya Jaka Tarub, karena yang dia lihat adalah wanita – wanita cantik yang tengah bermain air di telaga itu. Alangkah terkejutnya Jaka Tarub menyaksikan tujuh orang gadis cantik sedang mandi di Telaga. “Apakah ini arti mimpiku waktu itu ?”, pikirnya senang.
Mata Jaka Tarub melihat tumpukan pakaian bidadari di atas sebuah batu besar di pinggir Telaga.. Dengan hati hati Jaka Tarub berjalan menghampiri tumpukan baju itu. Ia berjalan sangat perlahan. Jaka Tarub memilih baju berwarna merah. Setelah berhasil, Jaka Tarub buru buru menyelinap ke balik semak semak.
Tiba tiba seorang dari bidadari itu berkata “, Ayo kita pulang sekarang. Hari sudah sore”. “Ya benar. Sebaiknya kita pulang sekarang sebelum matahari terbenam”, tambah yang lain. Para bidadari itu keluar dari danau dan mengenakan pakaian mereka masing masing.
“Dimana bajuku ?”, teriak salah seorang bidadari. “Siapa yang mengambil bajuku ?”, tanyanya dengan suara bergetar menahan tangis. “Dimana kau taruh bajumu Nawangwulan ?”, tanya seorang bidadari kepadanya. “Disini. Sama dengan baju kalian..”, Nawangwulan menjawab sambil menangis. Ia terlihat sangat panik. Tanpa bajunya, mana mungkin ia bisa pulang ke Kayangan. Apalagi selendang yang dipakainya untuk terbang ikut raib juga.
Akhirnya seorang bidadari berkata “Nawangwulan, maafkan kami. Kami harus segera pulang ke kayangan dan meninggalkanmu disini. Hari sudah menjelang sore”. Nawangwulan tidak dapat berbuat apa apa. Ia hanya bisa mengangguk dan melambaikan tangan kepada keenam temannya yang terbang perlahan meninggalkan Danau.
Nawangwulan kelihatan putus asa. Tiba tiba tanpa sadar ia berucap “Barangsiapa yang bisa memberiku pakaian akan kujadikan saudara bila ia perempuan, tapi bila ia laki laki akan kujadikan suamiku”. Jaka Tarub yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Nawangwulan dari balik pohon tersenyum senang. “Akhirnya mimpiku menjadi kenyataan”, pikirnya.
Jaka Tarub keluar dari persembunyiannya dan berjalan kearah danau. Ia membawa baju mendiang ibunya yang diambilnya ketika pulang tadi. Jaka Tarub segera meletakkan baju yang dibawanya diatas sebuah batu besar seraya berkata “Aku Jaka Tarub. Aku membawakan pakaian yang kau butuhkan. Ambillah dan pakailah segera. Hari sudah hampir malam”.
Jaka Tarub meninggalkan Nawangwulan dan menunggu di balik pohon besar tempatnya bersembunyi. Tak lama kemudian Nawangwulan datang menemuinya. “Aku Nawangwulan. Aku bidadari dari kayangan yang tidak bisa kembali kesana karena bajuku hilang”, kata Nawangwulan memperkenalkan diri. Ia memenuhi kata kata yang diucapkannya tadi. Tanpa ragu Nawangwulan bersedia menerima Jaka Tarub sebagai suaminya.
Mereka berdua telah menjadi suami istri yang sangat bahagia. Mereka telah dikaruniai oleh seorang putri yang sangat cantik yang diberi nama Nawangsih. Tak seorangpun penduduk desa yang mencurigai siapa sebenarnya Nawangwulan. Jaka Tarub mengakui istrinya itu sebagai gadis yang berasal dari sebuah desa yang jauh dari kampungnya.
Ada satu hal yang mengganggu pikirannya selama ini. Jaka Tarub merasa heran mengapa padi di lumbung mereka kelihatannya tidak berkurang walau dimasak setiap hari. Lama lama tumpukan padi itu semakin meninggi.
Pada suatu pagi, Nawangwulan hendak mencuci ke sungai. Ia menitipkan Nawangsih pada Jaka Tarub. Nawangwulan juga mengingatkan suaminya itu untuk tidak membuka tutup kukusan nasi yangsedangdimasaknya. Ketika sedang asyik bermain dengan Nawangsih, Jaka Tarub teringat akan nasi yang sedang dimasak istrinya. Karena terasa sudah lama, Jaka Tarub hendak melihat apakah nasi itu sudah matang. Tanpa sadar Jaka Tarub membuka kukusan nasi itu. Ia lupa akan pesan Nawangwulan.
Betapa terkejutnya Jaka Tarub demi melihat isi kukusan itu. Nawangwulan hanya memasak setangkai padi. Ia langsung teringat akan persediaan padi mereka yang semakin lama semakin banyak. Terjawab sudah pertanyaannya selama ini.
Nawangwulan yang rupanya telah sampai di rumah menatap marah kepada suaminya di pintu dapur. “Kenapa kau melanggar pesanku Mas ?”, tanyanya berang. Jaka Tarub tidak bisa menjawab. Ia hanya terdiam. “Hilanglah sudah kesaktianku untuk merubah setangkai padi menjadi sebakul nasi”, lanjut Nawangwulan. Jaka Tarub menyesali perbuatannya. Tapi apa mau dikata, semua sudah terlambat. Nawangwulan langsung masuk ke rumah dia menemukan selendang yang selama ini ia cari.
Bermacam perasaan berkecamuk di hatinya. Nawangwulan merasa dirinya ditipu oleh Jaka Tarub yang sekarang telah menjadi suaminya. Ia sama sekali tidak menyangka ternyata orang yang tega mencuri bajunya adalah Jaka Tarub.
“Kenapa kau tega melakukan ini padaku Jaka Tarub ?”, tanya Nawangwulan dengan nada sedih. “Maafkan aku Nawangwulan”, hanya itu kata kata yang sanggup diucapkan Jaka Tarub. Ia terlihat sangat menyesal. Nawangwulan dapat merasakan betapa Jaka Tarub tidak berdaya di hadapannya.
“Sekarang kau harus menanggung akibat perbuatanmu Jaka Tarub”, kata Nawangwulan. “Aku akan kembali ke kayangan karena sesungguhnya aku ini seorang bidadari. Tempatku bukan disini”, lanjutnya. Jaka Tarub tidak menjawab. Ia pasrah akan keputusan Nawangwulan.
Jaka Tarub menahan kesedihannya dengan sangat. Ia ingin terlihat tegar. Setelah Jaka Tarub menyatakan kesanggupannya untuk tidak bertemu lagi dengan Nawangwulan, sang bidadaripun terbang meninggalkan dirinya dan Nawangsih. Jaka Tarub hanya sanggup menatap kepergian Nawangwulan sambil mendekap Nawangsih. Sungguh kesalahannya tidak termaafkan. Tiada hal lain yang dapat dilakukannya saat ini selain merawat Nawangsih dengan baik seperti pesan Nawangwulan.
Jika kita bisa memahami kisah ini ada nilai-nilai kearifan lokal dan pesan moral dari sebuah cerita rakyat yang bermanfaat. kisah Jaka Tarub mengisyaratkan nasihat bahwa manusia tidak boleh melanggar janji. Artinya, kalau berjanji mesti diupayakan untuk ditepati. Jangan seperti juru kampanye yang mengobral janji hanya saat pilkada atau pilpres, namun ketika menjabat lupa akan janji-janji yang pernah dilontarkan.
Senin, 05 September 2016
Perubahan Itu Penting !!!
Berubah jadi lebih baik itu gak mudah loh…gak semudah
kaya kita lagi balik mendoan.. kalian tahu kan mendoan itu gorengan yang dimaem itu hlow… jadi orang yang mau berubah jadi baik gak
semudah itu bisa berubah jadi baik.. banyak banget rintanganya ,,, ada ini ada
itu pokoknya ada ada aja wkwkkw… tapi
kalau orang mau berubah jadi orang jelek
saya yakin itu mudah banget,,,
Tapi satu hal yang perlu kalian
tahu kalau kita mau jadi orang yang lebih baik dari sekarang kita harus ada niad dan tekad buat
merubahnya… Jangan dengarkan orang lain mau bicara apa tentang kita,, mau
bicara dulunya kaya gitu sekarang sok-sokan mau jadi kaya gini,,, Biarlah
jangan pernah kalian masukkan ke dalam hati,, apa lagi kalian masukkan ke dalam
pikiran… jangan pernah diserap atau pun
dirasakan… Buang aja ,, anggap aja itu sampah buat kamu,, itu hanya sekedar
angin yang bisa merusak saraf-saraf otak kita ,, jika kita selalu memikirkan perkataan
itu.. Namanya aja manusia,, Cuma bisanya
hanya ngusik kehidupan orang lain ,. Tanpa mereka tahu dan mereka pahami
kehidupan mereka sendiri.. Toh gak selamanya kehidupan mereka itu sempurna ..
Aku yakin kebanyakan orang yang hidupnya
Cuma bisa ngusik hidup orang lain itu adalah orang yang hidupnya pengen diperhatiin
sama orang lain..
Jangan pernah pandang mereka ..
(orang yang Cuma bisa ngujat diri kamu) tapi pandanglah kedepan,, kemana
langkah kaki kamu akan menuju,,, Luruslah berjalan dalam koridor yang benar..
Niscaya Allah akan menuntunmu kejalan yang lebih baik dari pada sekarang…
Aku pernah dengar dari mulut
seseorang katanya “Dulu preman sekarang jadi Ustad” dan ada lagi aku
dengar katanya “Dulu Bejat sekarang jadi
Pejabat” apa gak hebat thuw… dulunya aja gak
ada sedikit pun orang mau
memandang mereka ,,, tapi sekarang apa,,. Banyak orang memandangnya
bahkan tutur katanya sangat dibutuhkan untuk jadi motivasii…Allah itu maha
Pengasiihh teman .. jika kita selalu meminta pastiii Allah akan selalu
memberikan .. kaya kalau kita selalu dekat dengan orang tua kita ,, pasti apa
yang kita mau akan selalu diberikan .. nah tak jauh beda dengan Allah jika kita
dekat denganNya pasti apapun yang kita mau dan kita inginkan InsyaAllah bakal
dikasiih… Tapi dengan satu syarat kita mendekat dulu baru meminta .. jangan meminta
dulu lalu mendekat…
Allah itu juga maha Adil ..
Allah akan temukan kita pada orang yang salah dulu supaya kita bisa belajar dengan masa lalu kita …
Supaya kita gak mengulangi lagi hal yang salah .. Jika kita sudah ditemukan
dengan orang yang baik .. tapi kita tetap melakukan hal yang salah berarti kita
belum bisa menemukan hikmah dengan masa lalu kita… Masa dulu udah salah
sekarang tetap salah,,, jadi kapan benernya dong,,, Masa udah jatuh ditambah
tertimpa tangga pula.. apa gk sakit
banget ya…
Orang salah emang tidak
selamanya akan salah … Bahkan orang
benar pun tidak selamanya akan
benar…tapi masih berlaku orang salah selamnya akan tetap salah jika dia
belum bisa merubah sikapnya.. dan orang benar tidak akan pernah salah jika dia masih berpegang teguh dengan
sikap dan pendiriannya..
Hidup memang tak mudah teman,.
Ada kalanya kita diatas dan ada kalanya kita dibawah,, hidup juga tidak
selamnya indah,,, banyak batu krikil yang siap menggelincirkan hidup kita jika
kita tidak siiap dengan apa yang kita perbuat selama Ini…Jadi kita butuh tameng
untuk menjaga diri kita… mungkin dengan pengetahuan bahkan dengan agama..
Dan jangan pernah sekali-kali
kalian meremekan orang yang dulu bukan apa-apa buat kalian,.. karena apa suatu
saat orang yang kalian anggap bukan apa-apa itu akan menjadi sosok menakutkan
buat kalian,,. Kalian akan tunduk dan patuh dengan kemampuanya,,, karena orang
yang mau berbuah itu adalah orang yang lebiiih bisa menghargai hidup ketimbang
orang yang menganggap hidupnya sempurna tetapi tidak pernah melakukan
perubahan… hanya saja semua itu butuh waktu buwat ngebuktiiin bahwa orang tak
selamanya akan berada dalam keterpurukan tapi orang itu akan jadi yang
terdepan…
Selama bumi masih berputar pada
porosnya … dan bumi masih bisa mengelilingi matahari … tidak ada salahnya kita
untuk tetap berubah… toh gak ada ruginya kalau kita berubah.. malah kita kaya
dapatkan durian montok…

