Welcome to my blog, hope you enjoy reading :)
RSS

Selasa, 20 Desember 2016

UPGRIS BERSASTRA


Universitas PGRI Semarang tidak ada habisnya membuat inovasi dan kreasi di setiap perayaan Bulan Bahasa yang setiap tahunnya diselenggarakan pada bulan Oktober. Rabu 19 Oktober semua perkuliahan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni dialihkan ke Balairung. Dengan memakai baju batik kebanggaan Indonesia para mahasiswa berbodong-bondong masuk ke Gedung yang megah itu.  Pukul 08.30 WIB acara UPGRIS BERSASTRA dengan judul “3 Buku 3 Pembaca 3 Kritikus Satu Penulis” pun dimulai. Acara dibuka dengan pembukaan musikalisasi puisi dari grup band Bisquittime yang menyanyikan sekitar empat buah lagu. Acara pun beralih dan dipandu dengan pembawa acara. Seperti acara-acara perayaan biasanya pembawa acara membuka acara tersebut.
Tiba-tiba setelah pembawa acara turun dari panggung lampu tiba-tiba dipadamkan. Entah apa yang terjadi dipanggung sana. Ternyata ketika lampu dihidupkan kembali sudah ada lima gadis memakai baju hitam putih berdiri di depan cermin sambil membacakan sebuah puisi. Disini mulai ada kebingungan dan kejenuhan dengan pertunjukan yang ditunjukkan oleh kelima gadis cantik tersebut. Tidak paham, tidak mengerti dan maksudnya apa? Kata-kata tersebut mungkin yang ada di dalam benak para penonton. Untungnya setelah pertunjukkan kelima gadis itu, perasaan bingung serta jenuh hilang sudah. Seketika kami tercengang mendengar Pak Seno membacakan puisi  dengan begitu indah dan enak untuk didengar oleh gendang telinga. Dibantu dengan alunan musik karawitan serta para penari yang pandai melekak-lekukan tubuh mereka membuat suasana semakin hidup dan membuat semua mata terpana. Seperti melihat konser besar yang sudah diancang jauh-jauh hari. Oh My God bagus sekali, seakan mata ini tidak ingin berkedip satu detikpun. Para Penonton mengeluarkan HP mereka untuk mengabadikan moment yang sesuatu banget ini. Sekitar tujuh samapi sepuluh menit pertunjukan ini pun selesai. Setelah para penonton dimanjakan dengan pertunjukkan nan elok acara inti pun dimulai.
Bapak Harjito yang sudah ditunjuk untuk menjadi Pemandu Acara atau MC dalam bedah buku ini.  Tiga buku yang akan dibedah tersebut antara lain Bersepeda Ke Neraka, Selir Musim Panas, dan Sesat Pikir Para Binatang. Tiga Pembaca tersebut antara lain Pak Seno, Rektor UPGRIS  dan Wakil Rektor kita Bu Suci. Tiga Kritius tersebut antara lain Bapak Nur Hidayat, Bapak Prasetyo Utomo dan Widyanuri Eka Putra. Penulis buku tersebut adalah Triyanto Triwikromo.  Siapa yang tidak kenal dengannya? Penulis hebat asal Semarang. Karya-karyanya yang enak dinikmati para pembaca dengan berjubel ide dan gagasan. Sebelum para kritikus mengkkritik atau mengomentari buku-buku Triyanto Triwikromo, para penonton dihidangkan lagi dengan sebuah kejutan, ya Bapak Muhdi. Meskipun bukan orang sastra tapi kepiawaian Bapak Muhdi sudah tidak diragukan lagi. Sebelum Beliau membacakan puisi karangan Triyanto Triwikromo Beliau mengalunkan sebuah lagu ciptaanya ketika jaman SMA dulu. WOW ternyata Beliau menyanyi dengan menggunakan sebuah gitar, itu yang menjadi para penonton kagum akan keahlian Beliau. Petikan gitar yang keras tapi enak didengar karena memang genre lagu yag dinyanyikan adalah rock. Tepuk tangan yang meriah setelah Pak Muhdi membacakan puisi Triyanto Triwikromo. Pak Muhdi berkata “kenapa saya memilih puisi yang berjudul Takziah? Karena kematian tidak ditentukan bedasarkan umur, kematiian seseorang bisadatang kapan saja, diaman saja”.
Setelah Pak Muhdi menunjukkan kepiawaian Beliau dalam menyanyi dan membaca puisi, sekarang giliran Bu Suci adu kepiawaiannya. Dengan dibantu mahasiswa jurusan Bahasa Inggris bernama Erdha. Erdha ialah mahasiswa yang pawai menyanyikan lagu jawa. Badannya yang kecil tapi suaranya enak untuk didengar dan membuat para penonton terbungkam dengan suaranya. Dengan diiringi alunan lagu jawa yang dilantunkan Erdha, Bu Suci membacakan puisi dengan judul lagu Selir Musim Panas. Ternyata keistimewaan Bu Suci bukan hanya karena beliau pandai membaca puisi tapi beliau juga pandai nembang jawa.
Pak Muhdi dan Bu Suci sudah menunjukkan kepiawaian mereka. Sekarang kembali lagi keinti acara ini. Kembali kita akan membedah buku-buku karangan Triyanto Triwikromo. Dimulai dari Pak Nur, beliau berkata bahwa “Triyanto Triwikromo adalah pelintas batas, apa yang Triyanto Triwikromo tulis melampaui  batasan-batasan seperti mendialogkan dialog satu dengan dialog lain”. Belum usai sampai segitu saja sekarang bisquitime yang akan mengapresiasikan karya Triyanto Triwikromo dalam bentuk musikalisasi puisi.
Menurut Pak Pras Triyanto Triwikromo merupakan adek tingkat Pak Pras. Jika Triyanto Triwikromo sedang kesulitan menulis teks, Triyanto Triwikromo sering pergi ke rumah Pak Pras untuk meminta bantuan. Tapi begitu Triyanto Triwikromo  menulis di KOMPAS tulisan tersebut langsung diterima.  Sudah 12 buku yang Triyanto Triwikromo  ciptakan, berkali-kali mendapatkan penghargaan sastra, novel Triyanto Triwikromo juga diterbitkan oleh Gramedia. Untuk memahami cerpen Triyanto Triwikromo yang sulit dipahami atau ruwet dapat dipahami dengan teori struktrualisme genetic. Memahami satu teks dengan teks yang lain. Menurut Pak Pras ada judul buku yang cukup aneh karangan Triyanto Triwikromo yaitu Bersepeda Ke Neraka sebenarnya jika buku ini konvensional harusnya berjudul Kejebur Neraka atau Bersepeda Ke Taman. Bahwa cerpen ini serupa dengan apa yang dikatakan oleh Ismail Marzuki ada tiga unsur sastra yaitu ada tokoh ada latar dan ada alur . Cerpen yang bagus itu harus memuat ketiga unsur tersebut. Cerpen Bersepeda Ke Neraka merupakan cerpen yang tidak berkelamin . Perlu diingat bahwa suatu hari pidato politik itu bisa mendapatkan anugerah sastra, yang kedua bahwa seorang yang menciptakan lagu itu juga dapat mendapatkan penghargaan sastra , itu artinya apabila kita  bias memahami ragam sastra tiak berjenis kelamin.
Sekarang giliran kritikus Widyanuri Eka Putra mengkritik atau mengomnetari tentang hasil karya tulis dari Triyanto , tapi sebelumnya Widyanuri Eka Putra membagi-bagikan buku yang ia miliki dengan cara jika ada yang benar menjawab pertanyaan Widyanuri Eka Putra mak buku itu dapat dimiliki penonton yang bisa menjawab. Widyanuri Eka Putra membicarakan tentang buku karangan Triyanto yang berjudul Selir Musim Panas. Widyanuri Eka Putra mengenal teks Triyanto sejak tahun 2009. Widyanuri Eka Putra teringat dengan novel  pembukaan Eka Kurniawan yang berjudul O. Ternyata menjadi manusia itu sangat berat dan tugas yang terberat adalah menjadi manusia. Jadi pembukaan itu menurut Widyanuri Eka Putra salah yang sulit itu adalah menjadi penyair. Terbukti dari nama-nama yang dulu terkenal banyak yang pesiun menjadi penyair. Tapi Triyanto tidak pensiun menjadi penyair itu hal yang hebat.  Widyanuri Eka Putra mengupas buku Selir Musim Panas ini, untuk memahami semua kumpulan puisi Triyanto harus membaca empat buku tebal. Puisi Triyanto disusun dari empat buku yaitu buku Ancemin novelis China, Gelas Impress dan dua lainnya.
Akhirnya orang yang dibicarakan pun menaiki panggung. Disana terjadilah Tanya jawab antara Pak Harjito dan Pak Triyanto. Pak Harjito bertanya apa sih kerennya menjadi penulis? Menurut Pak Triyanto penulis itu tidak beda dengan orang yang memanjat kelapa jadi tidak ada kerennya. Itu bukan kata-kata saya itu adalah kata-kata penulis hebat dari Brazil jawab Pak Triyanto. Kenapa kebanyakan hasil karya Pak Triyanto banyak menceritakan tentang kematian, apa  menariknya ?, sudah banyak yang menulis saya hanya akan mengutip dari kata-kata orang bahwa kehidupan itu bermula dari kematian, dari kematian itulah bermula kehidupan.
Puncak Bedah buku para ktirikus memberikan sebuah statement untuk Triyanto .Statement  dari pak Nur  yaitu “pada saat ini kita berada dalam situasi dan kondisi yang menuntut serba instan, serba cepat dan untuk membaca karya-karya Triyanto Triwikromo jika kita menggunakan metode-metode membaca yang instan itu tidak cukup. Kita harus jadi seorang pembaca yang tekun dan tabah, dan melengkapi diri kita ketika membaca dengan seperangkat metode-metodeyang cukup memadai sehingga membaca kita menjadi sebuah bacaan yang lebih berkualitas, walaupun dalam praktiknya sebuah teks itu ketika sudah dilepas oleh pengarangnya itu menjadi sebuah milik public atau pembacanya tetapi  pembaca yang baik menurut saya adalah pembaca yang selalu mencoba melengkapi dirinya dengan file-file dari metode-metode yang  memadai dan sangat membantu sehingga para pembaca menjadi pembaca yang bagus.
Bagi Pak Pras “ Ini adalah potret seorang sastrawan yang sesungguhnya. Ayu Utami butuh sexs untuk melejitkan namanya. Faizal Odang butuh sejarah untuk melejitkan namanya dengan cepat. Terre Liye butuh style yang berkomunikasi dengan massa agar melejit namanya. Triyanto Triwikromo butuh tiga puluh tahun tanpa henti.
“Saya kira  pernyataan terakhir  diakui atau tidak Triyanto Triwikromo adalah salah satu penganut Umbrto Tejo, karena sebuah buku selalu terbentuk dari buku-buku lainnya. Jadi buku-buku yang dihasilkan Triyanto Triwikromo adalah perasan-perasan  dari karya-karya besar dunia. Kalau ingin menjadi seorang sastrawan seperti Triyanto Triwikromo tirulah lakunya.” Kata Widyanuri Eka Putra.

Inilah akhir dari acara ini. Triyanto Triwikromo sangat bangga bahkan hampir menangis bahagia ketika Beliau dirayakan atau dibuatkan acara semegah dan semewah ini. Kisah klasik yang indah. Sastrawan dari kota kecil tapi namanya dikenal dimana-mana. 

0 komentar:

Posting Komentar