Universitas
PGRI Semarang tidak ada habisnya membuat inovasi dan kreasi di setiap perayaan
Bulan Bahasa yang setiap tahunnya diselenggarakan pada bulan Oktober. Rabu 19
Oktober semua perkuliahan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni dialihkan ke
Balairung. Dengan memakai baju batik kebanggaan Indonesia para mahasiswa
berbodong-bondong masuk ke Gedung yang megah itu. Pukul 08.30 WIB acara UPGRIS BERSASTRA dengan
judul “3 Buku 3 Pembaca 3 Kritikus Satu Penulis” pun dimulai. Acara dibuka
dengan pembukaan musikalisasi puisi dari grup band Bisquittime yang menyanyikan
sekitar empat buah lagu. Acara pun beralih dan dipandu dengan pembawa acara.
Seperti acara-acara perayaan biasanya pembawa acara membuka acara tersebut.
Tiba-tiba
setelah pembawa acara turun dari panggung lampu tiba-tiba dipadamkan. Entah apa
yang terjadi dipanggung sana. Ternyata ketika lampu dihidupkan kembali sudah
ada lima gadis memakai baju hitam putih berdiri di depan cermin sambil
membacakan sebuah puisi. Disini mulai ada kebingungan dan kejenuhan dengan
pertunjukan yang ditunjukkan oleh kelima gadis cantik tersebut. Tidak paham,
tidak mengerti dan maksudnya apa? Kata-kata tersebut mungkin yang ada di dalam
benak para penonton. Untungnya setelah pertunjukkan kelima gadis itu, perasaan
bingung serta jenuh hilang sudah. Seketika kami tercengang mendengar Pak Seno
membacakan puisi dengan begitu indah dan
enak untuk didengar oleh gendang telinga. Dibantu dengan alunan musik karawitan
serta para penari yang pandai melekak-lekukan tubuh mereka membuat suasana
semakin hidup dan membuat semua mata terpana. Seperti melihat konser besar yang
sudah diancang jauh-jauh hari. Oh My God bagus sekali, seakan mata ini tidak
ingin berkedip satu detikpun. Para Penonton mengeluarkan HP mereka untuk
mengabadikan moment yang sesuatu banget ini. Sekitar tujuh samapi sepuluh menit
pertunjukan ini pun selesai. Setelah para penonton dimanjakan dengan
pertunjukkan nan elok acara inti pun dimulai.
Bapak
Harjito yang sudah ditunjuk untuk menjadi Pemandu Acara atau MC dalam bedah
buku ini. Tiga buku yang akan dibedah tersebut
antara lain Bersepeda Ke Neraka, Selir Musim Panas, dan Sesat Pikir Para
Binatang. Tiga Pembaca tersebut antara lain Pak Seno, Rektor UPGRIS dan Wakil Rektor kita Bu Suci. Tiga Kritius
tersebut antara lain Bapak Nur Hidayat, Bapak Prasetyo Utomo dan Widyanuri Eka
Putra. Penulis buku tersebut adalah Triyanto Triwikromo. Siapa yang tidak kenal dengannya? Penulis
hebat asal Semarang. Karya-karyanya yang enak dinikmati para pembaca dengan
berjubel ide dan gagasan. Sebelum para kritikus mengkkritik atau mengomentari
buku-buku Triyanto Triwikromo, para penonton dihidangkan lagi dengan sebuah
kejutan, ya Bapak Muhdi. Meskipun bukan orang sastra tapi kepiawaian Bapak
Muhdi sudah tidak diragukan lagi. Sebelum Beliau membacakan puisi karangan
Triyanto Triwikromo Beliau mengalunkan sebuah lagu ciptaanya ketika jaman SMA
dulu. WOW ternyata Beliau menyanyi dengan menggunakan sebuah gitar, itu yang
menjadi para penonton kagum akan keahlian Beliau. Petikan gitar yang keras tapi
enak didengar karena memang genre lagu yag dinyanyikan adalah rock. Tepuk
tangan yang meriah setelah Pak Muhdi membacakan puisi Triyanto Triwikromo. Pak
Muhdi berkata “kenapa saya memilih puisi yang berjudul Takziah? Karena kematian
tidak ditentukan bedasarkan umur, kematiian seseorang bisadatang kapan saja,
diaman saja”.
Setelah
Pak Muhdi menunjukkan kepiawaian Beliau dalam menyanyi dan membaca puisi,
sekarang giliran Bu Suci adu kepiawaiannya. Dengan dibantu mahasiswa jurusan
Bahasa Inggris bernama Erdha. Erdha ialah mahasiswa yang pawai menyanyikan lagu
jawa. Badannya yang kecil tapi suaranya enak untuk didengar dan membuat para
penonton terbungkam dengan suaranya. Dengan diiringi alunan lagu jawa yang
dilantunkan Erdha, Bu Suci membacakan puisi dengan judul lagu Selir Musim
Panas. Ternyata keistimewaan Bu Suci bukan hanya karena beliau pandai membaca
puisi tapi beliau juga pandai nembang jawa.
Pak
Muhdi dan Bu Suci sudah menunjukkan kepiawaian mereka. Sekarang kembali lagi
keinti acara ini. Kembali kita akan membedah buku-buku karangan Triyanto
Triwikromo. Dimulai dari Pak Nur, beliau berkata bahwa “Triyanto Triwikromo
adalah pelintas batas, apa yang Triyanto Triwikromo tulis melampaui batasan-batasan seperti mendialogkan dialog
satu dengan dialog lain”. Belum usai sampai segitu saja sekarang bisquitime
yang akan mengapresiasikan karya Triyanto Triwikromo dalam bentuk musikalisasi
puisi.
Menurut
Pak Pras Triyanto Triwikromo merupakan adek tingkat Pak Pras. Jika Triyanto
Triwikromo sedang kesulitan menulis teks, Triyanto Triwikromo sering pergi ke
rumah Pak Pras untuk meminta bantuan. Tapi begitu Triyanto Triwikromo menulis di KOMPAS tulisan tersebut langsung
diterima. Sudah 12 buku yang Triyanto
Triwikromo ciptakan, berkali-kali
mendapatkan penghargaan sastra, novel Triyanto Triwikromo juga diterbitkan oleh
Gramedia. Untuk memahami cerpen Triyanto Triwikromo yang sulit dipahami atau
ruwet dapat dipahami dengan teori struktrualisme genetic. Memahami satu teks
dengan teks yang lain. Menurut Pak Pras ada judul buku yang cukup aneh karangan
Triyanto Triwikromo yaitu Bersepeda Ke Neraka sebenarnya jika buku ini
konvensional harusnya berjudul Kejebur Neraka atau Bersepeda Ke Taman. Bahwa
cerpen ini serupa dengan apa yang dikatakan oleh Ismail Marzuki ada tiga unsur
sastra yaitu ada tokoh ada latar dan ada alur . Cerpen yang bagus itu harus
memuat ketiga unsur tersebut. Cerpen Bersepeda Ke Neraka merupakan cerpen yang
tidak berkelamin . Perlu diingat bahwa suatu hari pidato politik itu bisa
mendapatkan anugerah sastra, yang kedua bahwa seorang yang menciptakan lagu itu
juga dapat mendapatkan penghargaan sastra , itu artinya apabila kita bias memahami ragam sastra tiak berjenis kelamin.
Sekarang
giliran kritikus Widyanuri Eka Putra mengkritik atau mengomnetari tentang hasil
karya tulis dari Triyanto , tapi sebelumnya Widyanuri Eka Putra membagi-bagikan
buku yang ia miliki dengan cara jika ada yang benar menjawab pertanyaan
Widyanuri Eka Putra mak buku itu dapat dimiliki penonton yang bisa menjawab. Widyanuri
Eka Putra membicarakan tentang buku karangan Triyanto yang berjudul Selir Musim
Panas. Widyanuri Eka Putra mengenal teks Triyanto sejak tahun 2009. Widyanuri
Eka Putra teringat dengan novel
pembukaan Eka Kurniawan yang berjudul O. Ternyata menjadi manusia itu
sangat berat dan tugas yang terberat adalah menjadi manusia. Jadi pembukaan itu
menurut Widyanuri Eka Putra salah yang sulit itu adalah menjadi penyair.
Terbukti dari nama-nama yang dulu terkenal banyak yang pesiun menjadi penyair.
Tapi Triyanto tidak pensiun menjadi penyair itu hal yang hebat. Widyanuri Eka Putra mengupas buku Selir Musim
Panas ini, untuk memahami semua kumpulan puisi Triyanto harus membaca empat
buku tebal. Puisi Triyanto disusun dari empat buku yaitu buku Ancemin novelis
China, Gelas Impress dan dua lainnya.
Akhirnya
orang yang dibicarakan pun menaiki panggung. Disana terjadilah Tanya jawab
antara Pak Harjito dan Pak Triyanto. Pak Harjito bertanya apa sih kerennya
menjadi penulis? Menurut Pak Triyanto penulis itu tidak beda dengan orang yang
memanjat kelapa jadi tidak ada kerennya. Itu bukan kata-kata saya itu adalah
kata-kata penulis hebat dari Brazil jawab Pak Triyanto. Kenapa kebanyakan hasil
karya Pak Triyanto banyak menceritakan tentang kematian, apa menariknya ?, sudah banyak yang menulis saya
hanya akan mengutip dari kata-kata orang bahwa kehidupan itu bermula dari
kematian, dari kematian itulah bermula kehidupan.
Puncak
Bedah buku para ktirikus memberikan sebuah statement untuk Triyanto .Statement dari pak Nur
yaitu “pada saat ini kita berada dalam situasi dan kondisi yang menuntut
serba instan, serba cepat dan untuk membaca karya-karya Triyanto Triwikromo
jika kita menggunakan metode-metode membaca yang instan itu tidak cukup. Kita
harus jadi seorang pembaca yang tekun dan tabah, dan melengkapi diri kita
ketika membaca dengan seperangkat metode-metodeyang cukup memadai sehingga
membaca kita menjadi sebuah bacaan yang lebih berkualitas, walaupun dalam
praktiknya sebuah teks itu ketika sudah dilepas oleh pengarangnya itu menjadi
sebuah milik public atau pembacanya tetapi
pembaca yang baik menurut saya adalah pembaca yang selalu mencoba
melengkapi dirinya dengan file-file dari metode-metode yang memadai dan sangat membantu sehingga para
pembaca menjadi pembaca yang bagus.
Bagi
Pak Pras “ Ini adalah potret seorang sastrawan yang sesungguhnya. Ayu Utami
butuh sexs untuk melejitkan namanya. Faizal Odang butuh sejarah untuk
melejitkan namanya dengan cepat. Terre Liye butuh style yang berkomunikasi
dengan massa agar melejit namanya. Triyanto Triwikromo butuh tiga puluh tahun
tanpa henti.
“Saya
kira pernyataan terakhir diakui atau tidak Triyanto Triwikromo adalah
salah satu penganut Umbrto Tejo, karena sebuah buku selalu terbentuk dari
buku-buku lainnya. Jadi buku-buku yang dihasilkan Triyanto Triwikromo adalah
perasan-perasan dari karya-karya besar
dunia. Kalau ingin menjadi seorang sastrawan seperti Triyanto Triwikromo
tirulah lakunya.” Kata Widyanuri Eka Putra.

0 komentar:
Posting Komentar