Mengomentari esai yang berjudul “Jaka Tarub” yang ditulis oleh Eki
Endang Setiani, menurut saya penulisan esai yang sudah di buat oleh Eki masih
perlu banyak pengoreksian. Jika dilihat dari ceritanya penulis menceritakan
bagaimana alur cerita teater itu dimulai, tetapi keanehan esai ini tidak
diakhiri dengan bagaimana sebuah pertunjukan teater tersebut berakhir. Penulis
hanya bercerita tentang bagaimana teater itu berjalan. Adanya kesalahan tentang
penyebutan nama tokoh seperti nama tokoh “Nawang Wulan” tetapi disini malah
ditulis “Damar Wulan”. Ini adalah sebuah kesalahan fatal dimana seorang penulis
bisa membuat sebuah kesalahan yang sangat cacat. Apalagi ini adalah sebuah nama
tokoh utama perempuan yang sangat disorot dalam cerita ini. Kesalahan penulisan
nama tokoh utama perempuan akan mempengaruhi pembaca. Pembaca mungkin akan
enggan memabaca karena sejak awal saja penulis sudah salah menuliskan nama
tokoh utama perempuan, lantas pembaca akan berfikir tentang kebenaran esai
ini.Sungguh amat disayangkan bukan? Apalagi kisah Jaka Tarub sudah tidak asing
lagi bagi masyarakat Indonesia bahkan masyarakat Indonesia sudah paham bahwa
Jaka Tarub menikah dengan seorang bidadari yang bernama Nawang Wulan bukan
Damar Wulan. Penulis juga ternayata salah menuliskan nama anak Jaka Tarub dan
Nawang Wulan. Disini penulis menuliskan bahwa anak Jaka Tarub adalah “Wulan”
bukan “Nawangsih”. Serta ketidak konsistenan penulis menceritakan di awal
cerita penulis menuliskan bahwa anak Jaka Tarub bernama Wulan (Teater
Jaka Tarub dimulai sejak jaka tarub sudah mempunyai istri dan anak perempuan
yang bernama wulan) tetapi di akhir cerita penulis menyebut bahwa anak Jaka
Tarub bernama Nawangsih (jaka tarub yang mengambil selndang miliknya dan
akhirnya damar wulan meninggalkan jaka tarub dan Nawangsih). Dari sini
saja bisa kita lihat bahwa penulisan esai ini banyak sekali kekeliruan. Ada
lagi kekeliruan yang harus dibenahi oleh penulis tentang kutipan ini
“Pertunjukan tearer Jaka Tarub ini dibuat oleh karya mahasiswa teater gema
karya mahasiswa PBSI Universitas PGRI Semarang” sebenarnya pertunjukan Jaka
Tarub ini bukanlah karya dari mahasiswa teater gema cerita Jaka Tarub sudah ada
sejak dulu sebelum pentas teater ini dilaksanakan. Teater ini diperankan
oleh mahasiswa Unit Kemahasiswaan Teater Gemma UPGRIS. Bukankah itu
sebuah kesalahkaprahan? Memang tidak seratus persen seorang penulis
menulis esai itu harus benar dan tepat, setidaknya seorang penulis yang baik
adalah penulis yang memahami bahan tulisan yang akan ia jadikan sebuah tulisan
sehingga minilam tidak akan terjadi kekacauan atau kesalahkaprahan dalam
sebuah penulisan. Jika dilihat dari sisi lain dan melupakan sejenak
kesalahan-kesalahan diatas. Bisa dilihat bahwa penulis juga menuliskan
sebuah pesan moral yang baik untuk para pembaca. Jika
kita bisa memahami kisah ini ada nilai-nilai kearifan lokal dan pesan moral
dari sebuah cerita rakyat yang bermanfaat.

0 komentar:
Posting Komentar